Halo semuanya!
Tidak terasa tahun 2016 sudah sampai di bulan Juni. Tidak terasa sudah enam bulan lebih gue belum menulis apa pun di blog ini. Haaaah. For a catch up, I'm living a life of a co-assisstant now! Sudah mulai jaga malam, sudah mulai (sedikit) merasakan susah senangnya jadi dokter.
Nope, sekarang gue bukan mau cerita tentang kehidupan perkoasan gue. I will tell you soon. Gue berencana bikin survival kit koas di departemen RSHS, hahaha. Semoga bukan hanya angan-angan semata, tapi bisa terealisasikan.
Jadi ceritanya gue bakal ikut pertukaran pelajar khusus mahasiswa kedokteran nih di Denmark. Pertukaran pelajar atau exchange ini diadakan oleh International Federation of Medical Students' Associations (IFMSA). Sekadar cerita, gue dari tahun 1 sudah bergabung dengan anak IFMSA di Indonesia, yaitu Center of Indonesian Medical Students' Association (CIMSA). Bahkan secara spesifik gue memilih standing committee (semacam departemen begitu) untuk professional exchange (SCOPE) supaya bisa ikut pertukaran pelajar ini.
Proses pendaftaran hingga diterima sebagai calon "outgoing" atau calon pelajar yang akan ditukar sebenarnya cukup mudah. Beruntung CIMSA di lokal Universitas Padjadjaran (Unpad) sangat mendukung sejawatnya untuk mengikuti program ini. Prosesnya dimulai dari membeli formulir pendaftaran. Formulirnya harganya berapa gue lupa. Setelah itu formulir diisi (diisi identitas, dan juga pilihan negara yang ingin dituju) dan dikembalikan beserta CV dan motivation letter (motlet). Beberapa hari kemudian, gue dipanggil untuk wawancara oleh tim dari SCOPE CIMSA Unpad. Wawancaranya sih tentang kenapa mau ikut exchange, hobinya apa, kegiatan di kampus apa saja, kalau nanti sudah exchange mau ngapain, ya begitulah. Oya, wawancaranya dilakukan dalam bahasa Inggris.
Setelah melakukan wawancara, hasil wawancara dan CV serta motlet kemudian dibawa ke CIMSA nasional untuk diseleksi. Setelah kurang lebih 2 bulan, akhirnya pengumuman keluar. Gue mendapat negara yaitu Brazil buat exchange, yang merupakan negara pilihan ke-4 gue. Well, jujur saja gue kurang excited karena inginnya exchange ke Kanada. So, I told my mom that I got Brazil. Setelah menimbang-nimbang, Ibu gue kurang setuju gue ke Brazil karena negaranya tropis jadi sama aja kayak Indonesia. Terus letaknya juga jauh dari Indonesia jadi tiketnya mahal. So okay, gue juga setuju sama nyokap. Jadi gue menolak Brazil dan bertanya ke pihak SCOPE Unpad apakah ada negara lain yang kosong.
After around a month, finally ada kontrak kosong! Gue disuruh milih antara Perancis atau Denmark. I asked my mom again (it seems mother always has a great answer of everything :D) what country should I choose. Nyokap bilang punya teman yang kerja di Denmark jadi nyokap menyarankan Denmark aja. Kalau Perancis kurang aman katanya. So I looked at the internet and saw that Denmark actually has a great university! In the top 50 for the medical study! Straight away I chose Denmark! Buat kotanya, gue milih Aarhus. Kenapa bukan Copenhagen? Menurut artikel yang gue baca, Aarhus adalah kota pelajar yang ramah. That's the reason!
Setelah memutuskan dan mendapatkan lokasi exchange, sekarang saatnya mengurus visa. Setelah mencari-cari informasi, ternyata untuk mengurus visa ke Denmark harus dilakukan di VFS Indonesia yang bermarkas di Kuningan City. Gue memilih visa turis karena waktu kunjungan gue di Eropa kurang dari 90 hari. Oya, visa ke Denmark juga termasuk visa Schengen jadi bisa dipakai di beberapa negara di Eropa.
Jadilah gue menyiapkan (nyokap sih yang sangat membantu) berkas-berkas yang diperlukan untuk mengurus visa ini. Untuk daftar dokumen yang diperlukan bisa dilihat di sini. Untuk jaga-jaga, semua dokumen dirangkap dua supaya nantinya jika ada kesalahan atau dibutuhkan tidak perlu repot-repot cari tempat fotokopi lagi.
Untuk mengurus visa Denmark di kantor VFS ini tidak perlu mendaftar sebelumnya sehingga gue bisa langsung datang ke tempat. Gue datang pagi-pagi sekitar jam 7 pada hari Kamis (izin sehari tidak koas). Karena datang pagi, gue diwawancara nomor urut 1 di perwakilan Denmark. Oya, untuk masuk ruangan kantor VFS ini tidak boleh bawa tas besar, jadi semua dokumen dan uang untuk biaya administrasi gue masukin map saja.
Pertanyaan wawancara sebenarnya standar saja, hanya berkisar mengenai tujuan keberangkatan, dan serba-serbi seperti itinerary dan akomodasi di sana nanti. Karena gue berencana untuk berpergian tidak hanya di Denmark, gue membuat itinerary secara lengkap mulai dari kedatangan gue di Eropa sampai kepulangannya di Excel. Gue juga sudah memesan hostel atau penginapan di tempat yang ingin gue kunjungi nanti. Intinya sih harus jelas bahwa gue engga akan luntang-lantung di negeri orang.
Setelah wawancara, gue ke ruangan untuk pemindaian biometri. Tidak lama, hanya 5 menit. Sesudah itu, paspor gue serahkan dan pihak VFS mengatakan bahwa visa gue akan diproses. Jika ada kekurangan dokumen atau ada informasi lain akan diberitahukan via email. Semua proses juga akan diberitahukan via sms dan jika pembuatan visa sudah selesai maka paspornya akan dikirimkan ke alamat rumah. Untuk layanan pemberitahuan via sms dan pengiriman paspor tersebut dikenakan biaya tambahan.
Phew, lega rasanya ketika akhirnya gue bisa mengurus visa ini. Oya, pengurusan visa bisa dilakukan paling cepat 90 hari sebelum keberangkatan. Untuk visa gue ini keluar setelah dua minggu. Lumayan cepat yah! Tapi saran gue sih kalau bisa maksimal sebulan sebelum berangkat sudah diurus untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk (paling buruk visanya telat keluar dan tidak bisa berangkat).
Okay, this is the first story! Nantikan cerita-cerita selanjutnya, yah!